Oleh: Herry Mohammad
Bahan tertulis itu bisa dinukil dari berita Ying yai Sheng lan berangka tahun 1416 Masehi. Dalam berita itu disebutkan, masyarakat Majapahit terdiri atas, setidaknya, tiga etnis. Pertama, orang-orang Islam yang datang dari Barat; kedua, muslim Cina dari Kanton; dan ketiga, penduduk asli dengan agama dan aliran kepercayaan yang dianut waktu itu.
Buku The Malay Annals of Semarang and Cirebon, yang diterjemahkan oleh H.J. de Graaf ke dalam bahasa Inggris, menyebutkan bahwa para utusan dari Dinasti Ming yang datang ke Majapahit mayoritas beragama Islam. Sebelum datang ke Majapahit, mereka singgah dulu di Palembang, membentuk komunitas, lalu melanjutkan perjalanan ke Majapahit.
Dalam perjalanan menuju Majapahit, para utusan tersebut selalu singgah di kota-kota yang dilaluinya, dan membangun masjid. Ada Masjid Cangki di Mojokerto, T'se Tsun di Gresik (Jawa Timur), juga di Lasem (Jawa Tengah) dan Tuban (Jawa Timur). Komunitas Cina muslim di Majapahit cukup terpandang dan menempati pos-pos tertentu. Misalnya, di masa pemerintahan Suhita (1429-1447 M), Haji Gan Eng Cu oleh kerajaan diangkat sebagai kepala pelabuhan di Tuban.
Begitu pula, telah terjadi pernikahan antara orang-orang Cina muslim dan para petinggi kerajaan. Tersebutlah Bhre Kertabumi atau yang dikenal dengan Raja Brawijaya V yang punya selir dari etnis Cina.
Kerajaan Majapahit, yang berpusat di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur, berdiri tegak di Nusantara dari tahun 1293 sampai 1500. Di masa Raja Hayam Wuruk, yang berkuasa dari tahun 1350 sampai 1389, Majapahit mencapai puncak kejayaannya, dengan Patih Gajah Mada yang legendaris itu. Seluruh Nusantara berada dalam wilayahnya.
Dalam kitab Negarakertagama disebutkan, kekuasaan Majapahit menyangkut seluruh pulau besar di Nusantara, dari Sabang sampai Merauke. Majapahit adalah kerajaan Hindu-Buddha yang terakhir di Nusantara. Runtuhnya Majapahit adalah masa munculnya kerajaan-kerajaan Islam di Bumi Pertiwi ini.
Menurut Aris Soviyani, Kepala Badan Pelestarian Cagar Budaya Trowulan, kehidupan komunitas Islam di Majapahit itu suatu fakta, bukan fiksi. "Berdasarkan temuan di lapangan dan kajian perpustakaan, Islam telah tumbuh subur di zaman Majapahit," tuturnya kepada Gatra.
Kehidupan komunitas Islam yang tumbuh subur di era Majapahit, menurut Kacung Marijan, Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbud, adalah fakta bahwa Islam masuk ke Nusantara dengan cara-cara yang elegan. "Tidak ada kekerasan, dan tidak ada rebutan lahan," kata Kacung sembari tersenyum. "Yang jelas, tidak membuat keguncangan di masyarakat, melainkan masuk secara lembut, dan diterima," ia menjelaskan. Tokoh seperti Syekh Jumadil Kubro dan Maulana Malik Ibrahim adalah contoh yang bisa diteladani kapan saja dan di mana saja.
Syekh Jumadil Kubro
Jika Anda berziarah ke makam Syekh Jumadil Kubro di Trowulan, Mojokerto, pada malam Jumat Legi, Anda akan mendapati suasana seperti pasar malam. Masyarakat berjubel, dengan segala kepentingannya. Syekh Jumadil Kubro adalah seorang ulama besar sekaligus pelopor penyebaran agama Islam di Pulau Jawa. Ia berasal dari Samarkand, Uzbekistan, Asia Tengah. Menurut satu riwayat, Jumadil Kubro adalah keturunan ke-10 dari Al-Husain, cucu Nabi Muhammad SAW.
Dakwah Syekh Jumadil Kubro terhenti di Trowulan, Mojokerto, ketika ia wafat tahun 1376 M atau 15 Muharram 797 H. Jumadil Kubro hidup di antara dua raja, pada awal Raja Tribhuwana Wijaya Tunggadewi dan pertengahan Prabu Hayam Wuruk.
Dakwah Jumadil Kubro dikenal sejuk, tapi tegas bila menyangkut akidah. Karena itu, dakwah pertama yang dia lakukan di masyarakat Majapahit adalah dakwah tauhid, tapi dengan cara-cara dialog dan logika. Dakwah tersebut dilakukan agar masyarakat bisa berpikir sendiri untuk mengukur baik-buruknya apa yang selama ini mereka yakini dan laksanakan dalam kehidupan sehari-hari.
Dakwah bil lisan dan bil haq yang dilakukan oleh Syekh Jumadil Kubro membuat ia dikenal dekat dengan lingkungan Kerajaan Majapahit. Tutur katanya yang lembut tapi mengena selalu membuat lawan bicaranya terkesan dan terkesima. Ia berdakwah di lingkungan kerajaan tanpa menimbulkan gejolak di dalam.
Pelan-pelan tapi pasti, anggota kerajaan memeluk Islam, tanpa ada keributan dari dalam. Kehidupan keagamaan serta kemasyarakat berjalan mulus, tak ada gejolak, tak ada debat terbuka, dan tak ada perseteruan antar-agama. Inilah warisan terbesar dari Jumadil Kubro, dan itulah yang hendaknya kita teladani tanpa kenal waktu dan tempat.
Cara-cara Jumadil Kubro berdakwah telah menjadikannya amat disegani. Karena itu, pemakamannya berada di antara para pejabat kerajaan Majapahit, antara lain makam Tumenggung Satim Singgo Moyo, Ratu Kenconowungu, Anjasmoro, Sunan Ngudung (ayah Sunan Kudus), dan beberapa patih serta senopati yang dimakamkan di kompleks pemakaman Tralaya.
Syekh Maulana Malik Ibrahim
Tokoh penting yang berperan di Majapahit adalah Syekh Maulana Malik Ibrahim, yang pernah menjadi kadi (hakim) di Kerajaan Majapahit. Ada lafal Arab yang tertulis dalam batu nisannya, yang terjemahan bebasnya adalah:
"Inilah makam almarhum almaghfurlah yang berharap arahmat Tuhan kebanggan para pangeran, sendi para sultan, dan menteri. Ia juga penolong kaum fakir miskin. Malik Ibrahim juga dikenal dengan sebutan Kakek Bantal. Allah meliputinya dengan rahmat dan keridaan-Nya. Ia juga dimasukkan ke dalam surga Allah. Telah wafat pada hari Senin, 12 Rabi'ul Awal, tahun 822 Hijriyah.''
Di antara sembilan wali, Maulana Malik Ibrahim yang paling senior. Ia adalah seorang wali yang punya kontribusi besar di wilayah Majapahit. Lahir di Campa (Kamboja), ayahnya bernama Barakat Zainul Alam, ulama dari negeri Maghribi atau Makdum Ibrahim al-Samarqandi. Malik Ibrahim menetap di wilayah Gresik dan sekitarnya. Pada 801 H atau 1392 M, ia mulai berdakwah.
Adapun dakwah yang dilakukannya ialah sambil berdagang. Sembari menyodorkan dagangannya, ia memberikan petuah dengan menyitir ayat-ayat suci Al-Quran dan hadis Nabi Muhammad SAW. Juga petuah-petuah bijak tiada henti dari jurus dakwahnya. Cara dakwah seperti itu --tanpa harus menggurui tapi memberi tuntunan-- menarik simpati banyak pihak, termasuk para petinggi Kerajaan Majapahit. Dan karena itu pula ia ditunjuk menjadi kadi, untuk mengurusi urusan umat Islam.
Demak Menyerang Majapahit?
Brawijaya V (1468-1478 M) adalah raja Majapahit yang terakhir. Setelah itu, kerajaan menjadi lemah, terjadi pemberontakan dan perebutan. Keislaman Brawijaya tidak lepas dari peran Sunan Kalijaga, di akhir masa pemerintahannya. Terjadilah dialog antara Sunan Kalijaga dan Brawijaya.
"Syahadat itu seperti apa? Saya kok belum tahu. Coba ucapkan, agar Saya bisa mendengarkan," kata Brawijaya.
"Asyhadu alla ilaha Ilallah, wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah. Artinya, aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah," jawab Sunan Kalijaga. Lalu Sunan Kalijaga mendakwahi Brawijaya bahwa yang harus disembah itu adalah Allah, pemilik semua kuasa di bumi ini, bukan kepada manusia, apalagi patung, dan sejenisnya.
Rupanya, dakwah Sunan Kalijaga manjur. Dan Brawijaya pun mau masuk Islam dan bersyahadat. Lalu, rambutnya yang panjang dirapikan, dan jadilah ia seorang muslim.
Di masyarakat, muncul pemahaman bahwa jatuhnya Majapahit di masa Brawijaya V karena serangan dari Demak yang waktu itu dipimpin oleh Raden Patah (1500-1550 M) yang tidak lain adalah anak kandung Brawijaya. Menurut Babad Tanah Jawa, Raden Patah alias Jin Bun adalah putra Brawijaya dari ibu putri Cina. Menurut kabar yang berkembang sampai saat ini, Raden Patah menggunakan Sunan Giri untuk menyerang Majapahit.
Jika benar Raden Patah adalah putra Brawijaya, mungkinkah seorang anak muslim menyerang bapaknya? Jika benar Raden Patah menyerang ayahnya sendiri, tentu ini akan sangat bertentangan dengan ajaran Islam yang dianutnya. Adalah N.J. Krom (1883-1945), dalam Javaansche Geschiedenis, menolak teori tersebut. Menurut sejarawan Belanda itu, Majapahit diserang oleh Prabu Girindrawardhana. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Prof. Mohammad Yamin bahwa Brawijaya diserang oleh Prabu Rana Wijaya dari Kediri. Rana Wijaya adalah nama lain dari Girindrawardhana.
Menurut Susiyanto, peneliti dari Pusat Studi dan Peradaban Islam, Surakarta, pasca-penyerangan Girindrawardhana atas Majapahit pada tahun 1478 M, Girindrawardhana mengangkat dirinya sebagai Raja Majapahit dengan gelar Prabu Girindrawardhana atau Brawijaya VI. Mengetahui hal tersebut, Raden Patah menuntut haknya atas tahta Majapahit. Maka Demak melakukan penyerangan, tapi gagal. Girindrawardhana justru terbunuh oleh patihnya sendiri yang bernama Patih Udara, dan mengangkat dirinya sebagai raja Majapahit dengan gelar Prabu Udara alias Brawijaya VII.
Jika ditelusuri, informasi bahwa Majapahit jatuh karena diserang oleh Demak berawal dari kesalahan memahami arti sebuah nama. Menurut Yamin, kata giri dalam beberapa babad yang menceritakan keruntuhan Majapahit mengacu pada nama seseorang penganut agama Hindu. Dan giri tersebut dinisbatkan kepada Girindrawardhana, bukan Sunan Giri, seorang wali dari komunitas Wali Songo yang selalu bahu-membahu dengan Raden Patah. Tentu saja dua nama tersebut menyangkut nama dua tokoh yang berbeda. Hal ini juga diyakini oleh De Graaf.
Itulah ihwal dari kesalahpahaman tersebut dan berlarut-larut. Yang benar adalah Majapahit di masa Brawijaya VI dan Brawijaya VII yang diserang oleh Demak. Menurut cerita lisan dari kawasan Gunung Lawu (perbatasan antara Jawa Timur dan Jawa Tengah), Brawijaya V, sebelum masuk Islam, sering bertapa di Gunung Lawu. Belakangan, Sunan Lawu dinisbahkan kepada Brawijaya V ini.
Lalu, bagaimana nasib Majapahit di bawah Brawijaya VII? Tak jelas benar nasib Brawijaya VII. Yang jelas, pada akhirnya, sisa-sisa Majapahit dikuasai Kerajaan Islam Demak di bawah kepemimpinan Raden Patah.
Makam Tralaya
Makam Syekh Jumadil Kubro terletak di kompleks pemakaman Tralaya. Pada nisan kepala dan kaki bagian atas berbentuk kurung kurawal, sisi-sisinya lurus mengecil ke bawah. Nisan kepala sisi dalam, bagian tengah terdapat inskripsi huruf Arab dalam enam baris ke bawah:
Qallahu Subhanahu wa Ta'ala(Firman Allah Yang Maha Terpuji lagi Maha Mulia) Kullu Nafsin Zaiqatul Mawti (Setiap yang bernyawa akan mengalami mati) Kullu Man Alayha Fanin (Segala yang ada d iatas bumi akan binasa) Kullu Syay'in Halikun illa Wajhahu (Segala sesuatu di bumi dan di langit akan rusak kecuali Tuhanmu) Kullu Say'in Sayamutu (setiap manusia akan mati) Huwa Hayyun La Yamutu (Allah itu hidup dan tidak mati)
Pemakaman Tralaya adalah bukti adanya komunitas muslim di dalam Kerajaan Majapahit. Makam Tralaya berjangka tahun antara 1368 M hingga tahun 1611 M. Adapun kompleks Makam Tralaya dibagi dalam beberapa bagian.
Petilasan Wali Songo. Kompleks ini berada paling depan, berukuran 10 x 8 meter persegi, berpagar tembok tanpa hiasan. Di dalamnya terdapat sembilan wali, yaitu Said Abdurrahman bin Maghribi, Said Ibrahim Asmoro, Said Abdul Qadir Jaelani, Said Maulana Ishak, Sunan Bayat, Sunan Demak, Sunan Kalijaga, Sunan Bejagung, dan Sunan Geseng.
Ada juga dua makam yang letaknya ditinggikan oleh warga. Dua makam tersebut adalah makam Ratu Kencanawungu dan Dewi Anjasmara.
Jika kita berjalan agak ke barat, ada kompleks makam yang dipagari tembok keliling dan di dalamnya ada tujuh makam. Kompleks makam ini masih asli. Empat di antara makam-makam itu batu nisannya memakai pahatan lukisan surya dan di bawahnya dituliskan angka tahun Jawa Kuno. Sedangkan di sebaliknya bertuliskan huruf-huruf Arab. Keempat angka tahun itu adalah tahun 1340 Saka, tahun 1377 Saka, tahun 1379 Saka, dan tahun 1387 Saka. Kompleks makam ini adalah makam para keluarga raja atau pejabat Kerajaan Majapahit yang sudah memeluk agama Islam.
Adapun ketujuh makam tersebut adalah:
Nisan Noto Suryo, bagian atas berbentuk kurung kurawal, sisi-sisinya cembung, sisi dalam nisa kepala terdapat inskripsi huruf Arab dalam tiga baris: La illaha (.........) Allahu (Tidak ada Tuhan [kecuali] Allah) Muhammad utusan (Muhammad utusan) Allah (Allah).
Nisan Patih Noto Kusumo.
Nisan Gajah Permodo.
Nisan Noyo Genggong, sisi luar nisan kepala terdapat inskripsi huruf Arab dalam dua baris: - Kullu nafsin za (setiap yang bernyawa) - 'iqotul mawti (akan merasakan kematian)
Nisan Sabdo Palon
Emban Kinasih
Nisan Polo Putro


